Monday, 20 January 2020

Jorge Lorenzo





        Jorge Lorenzo atau yang sering dipanggil dengan julukan Por Fuera ini adalah sosok pebalap tangguh dari ajang Moto GP. Namun sayang pebalap tangguh ini baru saja menyudahi karirnya di ajang tersebut pada November 2019 yang lalu. Lorenzo sendiri tercatat sukses meraih 5 gelar juara dunia selama berkarir di ajang Moto GP yang 3 diantaranya diraih pada kelas utama.
       Lorenzo sendiri lahir di kota Palma, Spanyol 4 Mei 1987. Lorenzo mengawali karir di ajang Moto GP pada tahun 2002 di kelas 125 cc bersama tim Derbi. Selama berkarir di kelas 125 cc dari tahun 2002 sampai 2004 performa Lorenzo bisa dibilang tidak istimewa, bahkan selama 3 tahun berkarir di kelas tersebut Lorenzo hanya mampu 4 kali memenangi balapan. Prestasi terbaik Lorenzo hanyalah sukses menembus 4 besar klasemen akhir pebalap pada tahun 2004.
       Namun meskipun begitu, tim Honda tetap memberi kesempatan bagi Lorenzo untuk naik ke kelas 250 cc atau yang saat ini dikenal dengan kelas Moto 2 pada tahun 2005. Di musin debutnya di kelas 250 cc penampilan Lorenzo lumayan bagus dan di penghujung musim 2005 sukses menempati posisi 5 di klasemen akhir pebalap dengan torehan 167 poin. Di musim keduanya di kelas 250 cc, Lorenzo memutuskan untuk pindah ke pabrikan Aprilia. Keputusan Lorenzo untuk pindah ke Aprilia ternyata sangat tepat, dimana di pabrikan Aprilia inilah karir Lorenzo melesat. Bersama pabrikan Aprilia, Lorenzo sukses keluar sebagai juara dunia kelas 250 cc 2 tahun berturut turut tepatnya pada tahun 2006 dan tahun 2007.
       Berkat 2 gelar juara dunia di kelas 250 cc tersebut, tim Yamaha akhirnya merekrut Lorenzo ke kelas utama pada tahub 2008 dan diduetksn dengan pebalap top Valentino Rossi. Penampilan debut Lorenzo di kelas utama sangatlah impresif dimana ia sukses menempati posisi 4 di klasemen akhir pebalap dan dinobatkan sebagai Rookie Of The Year atau pebalap pendatang baru terbaik. Musim berikutnya penampilan Lorenzo semakin meningkat. Di musim 2009 ini Lorenzo tampil sangat energik dan terlibat persaingan ketat dengan Rossi dalam perebutan gelar juara dunia kelas utama Moto GP hingga akhir musim. Salah satu duel legendarisnya dengan Rossi terjadi di seri Catalunya, yangmana saat itu ia harus mengakui kemenangan Rossi setelah terlibat aksi salip menyalip hingga tikungan terakhir. Dan pada akhir musim 2009 tersebut Lorenzo harus puas menyandang predikat runner up dibawah sang juara dunia saat itu Rossi.
       Karir Lorenzo terus berlanjut pada tahun 2010. Pada awal awal musim 2010 Lorenzo sempat bersaing ketat kembali dengan Rossi, namun pasca Rossi mengalami cedera parah di Mugello Lorenzo seperti berlari sendirian di perburuan gelar juara. Saingan lain seperti Pedrosa dan Stoner tak mampu membendung laju kencang Lorenzo. Alhasil pada akhir musim 2010 Lorenzo berhasil merengkuh gelar juara dunia kelas utama Moto GP untuk yang pertama di sepanjang karirnya dengan 383 poin. Tak hanya itu saja, pada musim 2010 tersebut Lorenzo juga sempat mencetak rekor sebagai pebalap dengan capaian poin terbanyak di ajang Moto GP sebelum rekor tersebut dipatahkan oleh Marc Marquez pada tahun 2019 yang lalu.
      Setelah menjadi runner up Stoner pada musim 2011, pada musim 2012 Lorenzo kembali sukses meraih gelar juara dunia kelas utama Moto GP untuk kali kedua. Pada musim 2012 tersebut Lorenzo sukses memenangkan 6 balapan serta mengumpulkan 350 poin.
Namun performa Lorenzo sedikit mengalami penurunan prestasi pada tahun 2013 dan 2014. Dimana pada 2 tahun tersebut Lorenzo gagal keluar sebagai juara dunia dan harus mengakui kedikdayaan si Wonder Kid Marc Marquez yang sukses menjadi juara dunia 2 musim beruntun.
       Setelah absen menjadi juara dunia 2 tahun beruntun, akhirnya Lorenzo kembali juara dunia kelas utama Moto GP pada tahun 2015. Di musim yang penuh drama tersebut, Lorenzo sukses menjadi peringkat teratas mengungguli Rossi dan Marquez. Salah satu drama yang dalam tanda kutip sangat menguntungkan Lorenzo terjadi di seri Malaysia. Di seri tersebut Rossi terlibat insiden besar dengan Marquez yakni insiden dimana Rossi dengan sengaja menendang motor Marquez hingga marquez terjatuh dan gagal finis. Dan seusai balapan, Rossi pun dijatuhi hukuman pengurangan 3 poin serta harus start dari urutan paling belakang di seri terakhir. Tentunya dengan hukuman yang didapat Rossi tersebut sangatlah menguntungkan bagi Lorenzo. Lorenzo pun tak menyia nyiakan kesempatan tersebut, di seri terakhir yang dihelat di Valencia Lorenzo sukses memenangkan balapan. Meskipun Rossi tampil luar biasa dengan finis di urutan keempat setalah harus memulai balapan dari posisi paling belakang, hal tersebut tak cukup untuk menghentikan keperkasaan Lorenzo yang sukses keluar menjadi juara dunia kelas utama Moto GP untuk yang ketiga kalinya.
       Namun setelah itu karir Lorenzo mengalami penurunan. Pada musim 2016 Lorenzo hanya mampu menempati posisi 3 klasemen akhir pebalap dibawah sang juara dunia Marquez dan Rossi. Pada tahun 2017 Lorenzo secara mengejutkan meninggalkan tim yang telah membesarkan namanya yakni Yamaha menuju tim asal Italia Ducati. Namun keputusan berani Lorenzo tersebut ternyata salah. Dan performa Lorenzo selama 2 musim bersama Ducati justru terus mengalami kemunduran. Dimana pada musim 2017 dan 2018 tersebut Lorenzo hanya menempati peringkat 7 dan 9 di klasemen akhir pebalap serta hanya mampu menang di 3 balapan dari total 32 balapan yang ia ikuti dalam 2 tahun.
       Tak mau karirnya terus mengalami kemunduran, akhirnya pada musim 2019 Lorenzo resmi hijrah ke tim asal Jepang Repsol Honda. Keputusan Lorenzo ini sempat memberi harapan besar bagi fansnya untuk kembali melihat kebangkitan Por Fuera. Namun sayang alih alih bangkit justru bersama tim Repsol Honda ini performa Lorenzo semakin mengalami kemerosotan. Kemerosotan Lorenzo ini disebabkan dua faktor utama, faktor pertama disebabkan sulitnya dirinya untuk beradaptasi dengan motor Repsol Honda dan faktor kedua tentunya cedera yang terus dialaminya di sepanjang musim. Dan pada musim tersebut Lorenzo hanya mampu meraih 28 poin tanpa meraih 1 kali podium pun serta hanya menempati rangking 19 di klasemen akhir pebalap.
      Karena keadaan fisiknya yang terus menurun, akhirnya Lorenzo memutuskan untuk pensiun dari ajang balapan terakbar di dunia yakni Moto GP pada akhir musim 2019. Meski akhir karirnya di Moto GP tak berlangsung mulus, sosok Lorenzo tetaplah sosok pebalap hebat dan aksi aksinya selama  ini akan terus diingat khususnya bagi penggemar setia Moto GP sampai kapanpun.
      Demikianlah akhir dari pembahasan singkat kita kali tentang pebalap hebat asal tanah matador bernama Jorge Lorenzo. Semoga pembahasan kita ini bermanfaat.

Monday, 16 September 2019

Jonathan Rea





     Mendengar nama Jonathan Rea mungkin bagi pecinta olahraga kebanyakan masih sangat asing, namun bagi penggemar balap motor khususnya ajang Superbike nama Rea sudah tidak asing lagi. Di ajang balap motor Superbike yang cukup populer tersebut Rea tercatat sudah 4 kali sukses menjadi juara dunia yang diraihnya secara beruntun dari kurun waktu 2015 hingga 2018.
       Rea sendiri lahir pada 2 Febuari 1987 di kota Ballynure, Irlandia Utara. Selain tampil di ajang Superbike, Rea juga sempat tampil di ajang Moto GP tahun 2012 meskipun hanya sebagai pebalap pengganti dan hanya tampil di dua balapan saja yakni di San Marino dan di Aragon, Spanyol. Namun walaupun berstatus pebalap pengganti performa Rea bisa dibilang cukup baik dengan berhasil meraih 17 poin. Rea sendiri tampil di dua balapan tersebut menggantikan pebalap Repsol Honda yang kala itu tengah mengalami cedera Casey Stoner. Sebelum berkarir di ajang World Superbike Champhionship, Rea terlebih dahulu mengawali karir balapnya di ajang British Superbike Champhionship selama 3 tahun. Setelah itu Rea beralih ke ajang balap motor lain yakni World Supersport Champhionship pada tahun 2008 dan keluar sebagai runner up di akhir musim dengan torehan 164 poin.
       Selepas keluar menjadi runner up di ajang World Supersport 2008, barulah pada tahun 2009 Rea memulai karirnya di ajang World Superbike Championship bersama tim Honda. Namun sayang performa Rea bersama tim Honda tidaklah istimewa, alhasil selama 6 tahun bersama Honda Rea tidak mampu sekalipun keluar sebagai juara dunia Superbike.
       Tidak mau karirnya mengalami stagnasi, akhirnya pada tahun 2015 Rea memutuskan hijrah ke tim asal Jepang lainnya yakni Kawasaki. Keputusan Rea untuk pindah ke tim Kawasaki ternyata sangat tepat. Tak butuh menunggu waktu yang lama, di tahun pertamanya bersama Kawasaki Rea langsung sukses keluar menjadi juara dunia perdananya di ajang World Supetbike. Gelar juara dunia tersebut diraih oleh Rea seusai dirinya tampil dominan di sepanjang musim 2015 dengan meraih 14 kemenangan race serta mengumpulkan poin sebanyak 548 poin. Tak berhenti disitu saja, dominasi Rea bersama Kawasaki di ajang World Superbike terus berlanjut di 3 tahun berikutnya. Dimana dalam kurun waktu 2016 hingga 2018 Rea sukses keluar sebagai juara dunia Superbike secara berturut turut. Dengan capaian tersebut Rea pun tercatat menjadi pebalap pertama di sepanjang sejarah yang mampu menjuarai ajang Superbike sebanyak 4 kali.
      Dominasi Rea di ajang Superbike nampaknya masih akan berlanjut pada tahun 2019 ini. Meski tidak terlalu dominan dibanding tahun tahun sebelumnya, tercatat hingga saat ini Rea untuk sementara masih memimpin posisi teratas klasemen pebalap dengan 490 poin unggul 91 poin atas saingan utamanya Alvaro Bautista. Akankah tahun ini Rea meraih gelar juara dunia Supetbike kelimanya?, kita nantikan saja hingga akhir musim Superbike tahun 2019 ini.
       Demikianlah akhir pembahasan singkat kita kali ini tentang pebalap jawara World Superbike 4 kali Jonathan Rea. Semoga pembahasan kita kali ini bermanfaat bagi kita semua.

Friday, 6 September 2019

Marc Marquez




       Marc Marquez adalah sosok pebalap muda yang kini tengah mendominasi ajang balap motor paling prestisius di dunia yakni Moto GP. Kehebatan Marquez di dunia balap motor tak perlu diragukan lagi, tercatat dalam 6 tahun terakhir Marquez sudah sukses menjadi juara dunia Moto GP sebanyak 5 kali yang 3 diantaranya diraih dalam 3 tahun terakhir. Dan dominasi Marquez masih berlanjut di tahun ini, dimana untuk sementara Marquez masih memuncaki klasemen pebalap Moto GP dengan keunggulan poin cukup signifikan.
       Marquez lahir di Cervera, Spanyol 17 Febuari 1993 dan memulai karir balapnya di Moto GP pada tahun 2008 bersama tim KTM. Pada tahun 2008 Marquez memulai karirnya di Moto GP dari kelas 125 cc atau yang saat ini lebih dikenal dengan kelas Moto 3. Namun di musim pertamanya di kelas 125 cc, Marquez gagal meraih gelar juara dan pada tahun 2009 Marquez kembali gagal meraih juara. Namun meski gagal juara di dua tahun tersebut, Marquez tak pernah menyerah dan terus meningkatkan performanya. Dan semangat tak pantang menyerah Marquez akhirnya membuahkan hasil pada musim ketiganya di kelas 125 cc yakni pada tahun 2010. Pada tahun tersebut Marquez berhasil menjadi juara kelas 125 cc dengan perolehan 310 poin.
       Usai juara kelas 125 cc pada tahun 2010, Marquez memutuskan untuk naik kelas ke kelas Moto 2 pada tahun 2011 bersama tim Suter Honda. Namun musim pertamanya di kelas Moto 2 tidak berlangsung mulus dan pada akhir musim Marquez gagal juara dan hanya berada di rangking kedua dibawah juara Moto 2 kala itu Stefan Bradl. Namun kegagalan Marquez segera berganti menjadi kesuksesan pada tahun berikutnya. Pada tahun keduanya di ajang Moto 2 atau lebih tepatnya pada tahun 2012, Marquez sukses menjadi juara dunia kelas Moto 2. Marquez sukses keluar menjadi juara kelas Moto 2 usai terlibat persaingan ketat dengan rivalnya kala itu Pol Espargaro di sepanjang musim. Marquez sendiri kala itu keluar sebagai juara Moto 2 dengan torehan 9 kemenangan seri, 7 kali raihan pole position, serta sukses mengumpulkan 328 poin di akhir musim.
        Berkat performanya yang cukup ciamik di kelas Moto 2, tim Repsol Honda pun tak ragu untuk merekrutnya tampil di kelas utama Moto GP. Keputusan tim Repsol Honda tersebut ternyata sangat tepat. Tak butuh waktu lama, di musim debutnya di kelas utama Moto GP Marquez langsung sukses keluar sebagai juara dunia Moto GP. Marquez sukses menjadi juara usai berhasil mengungguli dua pebalap berpengalaman yakni Jorge Lorenzo dan Dani Pedrosa di klasemen akhir pebalap. Kesuksesan Marquez kembali berlanjut pada tahun 2014, dimana pada tahun ini Marquez kembali keluar sebagai juara dunia Moto GP. Dan gelar juara tersebut terasa semakin berkesan dikarenakan ia sukses menjadi juara dunia setelah mengungguli idolanya Valentino Rossi yang pada musim tersebut hanya menjadi runner up.
       Namun sayang masa masa indah Marquez harus terhenti pada musim 2015. Hal tersebut terjadi usai Marquez gagal meraih gelar juara dan hanya berada di posisi ketiga kalah bersaing dengan Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo. Sebenarnya penampilan Marquez di musim tersebut tidak terlalu buruk, hanya saja di musim tersebut Marquez sering mengalami crash atau kecelakaan. Selain gagal menjadi juara, pada tahun tersebut Marquez juga terlibat perseteruan hebat dengan Valentino Rossi dan perseteruan itupun sangat tersohor hingga sekarang.
       Namun masa sulit yang dialami Marquez berakhir pada tahun 2016 usai kembali sukses menjadi juara dunia. Pada tahun tersebut Marquez tampil mendominasi dengan raihan 298 poin. Dan kesuksesan Marquez berlanjut di tahun 2017 dan 2018 usai sukses kembali menjadi juara dunia secara beruntun. Ada yang unik dari dua gelar terakhir yang diraih Marquez tersebut, dimana dalam dua musim tersebut Andrea Dovizioso berturut turut menjadi runner up. Dan dominasi Marquez kembali berlanjut pada musim 2019 yang saat ini masih berlangsung. Dimana tercatat hingga 12 balapan yang telah berlangsung, Marquez sukses memenangi 6 balapan diantaranya dan telah mengumpulkan total 250 poin. Dan banyak pengamat memprediksi di akhir musim 2019 nanti Marquez akan kembali menjadi juara dunia kelas utama Moto GP untuk kali keenam. Prediksi banyak pengamat tersebut tentunya sangat beralasan. Melihat performa Marquez saat ini yang sangat stabil dan luar biasa serta telah unggul 78 poin dari pesaing terdekatnya yakni Andrea Dovizioso, kalau tidak ada insiden bearti rasa rasanya gelar juara dunia kelas utama Moto GP keenam Marquez tinggal menunggu waktu saja.
       Selain torehan gelar juara dunia diatas, Marquez yang berjulukan The Baby Alien ini juga sukses meraih sejumlah rekor. Rekor rekor yang diraih Marquez diantaranya menjadi pebalap termuda yang sukses menjadi juara di kelas utama Moto GP, pebalap termuda yang sukses mempertahankan gelar juara kelas utama Moto GP, pebalap dengan koleksi kemenangan terbanyak dalam satu musim di kelas utama Moto GP, serta juga menjadi pebalap kelas utama Moto GP kelima dengan jumlah kemenangan seri  terbanyak dengan 70 kemengan seri.
       Demikianlah akhir dari pembahasan singkat kita kali ini tentang sosok pebalap berbakat dari ajang balap motor paling bergengsi di dunia yakni Moto GP bernama lengkap Marc Marquez Alenta. Semoga pembahasan kita kali ini bermanfaat.
     
       

Saturday, 31 August 2019

Serena Willams




      Serena Williams adalah salah satu petenis putri terhebat yang pernah ada. Kehebatan Serena di dunia tenis sudah tidak perlu diragukan lagi, sudah banyak gelar yang telah dimenangi oleh petenis yang kebetulan juga merupakan adik dari petenis putri hebat lainnya yakni Venus Williams.
      Serena sendiri lahir di negara bagian Michigan, Amerika Serikat pada tanggal 26 September 1981. Serena memulai karir profesionalnya di dunia tenis pada rahun 1995. Tak butuh waktu lama, 4 tahun pasca memulai karir tenis pro nya Serena sukses merengkuh gelar Grand Slam pertamanya yakni diajang Amerika Serikat Terbuka.
      Setelah itu perlahan lahan karir Serena mulai menanjak cukup signifikan dan ia juga sukses meraih berbagai gelar bergengsi mulai dari kejuaraan level Major hingga level Grand Slam. Dengan penampilannya yang terus menanjak, ia pun akhirnya sukses menduduki rangking satu dunia untuk pertama kali pada tanggal 8 Juli 2002. Semenjak itupun Serena menjelma menjadi petenis putri yang paling ditakuti oleh petenis petenis putri lainnya. Dan hal itu dibuktikan oleh Serena dengan sukses 8 kali menduduki rangking satu dunia dari kurun waktu 2002 hingga 2017.
      Dengan pencapaian pencapaiannya yang luar biasa tersebut, Serena mampu menggeser hegemoni sejumlah nama nama besar termasuk kakaknya sendiri Venus Williams. Namun pada 19 April 2017 Serena harus rehat sejenak dari dunia tenis karena tengah mengandung anak pertamanya.
       Pada tahun 2018 Serena akhinya come back ke dunia tenis. Tak butuh waktu lama Serena pun langsung sukses masuk partai final Wimbledon. Meski harus kalah di partai final, namun hal tersebut cukup membuat Serena melesat ke rangking 30 besar dunia. Dan semenjak itupun Serena terus memperbaiki rangkingnya hingga saat ini menduduki rangking 8 dunia. Meski terus memperbaiki performanya, namun secara umum performa Serena belumlah kembali 100% ke penampilan terbaiknya seperti sebelum ia memutuskan untuk cuti pada tahun 2017 yang lalu.
       Namun apapun itu Serena tetap dianggap sebagai petenis nomor satu dunia hingga sekarang. Hal tersebut tentu tidak terlepas dari prestasi prestasi yang telah dicapainya hingga saat ini. Tercatat hingga sekarang Serena telah sukses menjuarai kejuaraan Grand Slam 23 kali dengan rincian 7 kali juara Wimbledon, 7 kali juara Australia Terbuka, 6 kali juara Amerika Serikat Terbuka, dan 3 kali juara Perancis Terbuka. Dengan 23 gelar juara tersebut, nama Serena pun terukir di buku sejarah sebagai peraih gelar Grand Slam terbanyak melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh petenis legendaris Steffi Graf.
       Tak hanya di sektor tunggal, ibu dari Akexis Olympia Ohanian ini juga cukup berprestasi di sektor ganda. Tercatat di sektor ganda Serena pernah meraih 14 titel juara Grand Slam ganda putri, 2 titel juara Grand Slam ganda campuran, 3 medali emas Olimpiade, serta 2 kali sukses menjuarai Piala Hopman pada tahun 2003 dan 2008.
      Dengan prestasi prestasi di atas bisa dibilang karir Serena di dunia tenis sangatlah sempurna. Tak heran apabila banyak pengamat olahraga menganggap Serena sebagai petenis putri terbaik dunia sepanjang masa.
       Sekianlah pembahasan singkat kita kali ini mengenai petenis putri peraih medali emas Olimpiade London 2012 bernana Serena Williams. Semoga ulasan kita kali ini bermanfaat.

Monday, 19 August 2019

Maria Sharapova

  


        Maria Sharapova adalah sosok petenis wanita yang sangat populer di dunia hingga saat ini. Tak hanya populer, Sharapova juga memiliki kemampuan mumpuni dalam dunia tenis dan bahkan Sharapova pernah menduduki rangking satu dunia. Namun sayang petenis pengoleksi 5 gelar Grand Slam ini tengah mengalami penurunan performa beberapa tahun terakhir.
       Maria Sharapova lahir di daerah Siberia, Rusia pada 19 April 1987 dengan nama lengkap Maria Yuryevna Sharapova. Sharapova mengawali karir tenis profesionalnya pada tahun 2001. Dan pada tahun 2003 Sharapova sukses meraih trofi pertama dalam karir profesionalnya di dunia tenis.
     Setelah meraih gelar Major pertamanya di tahun 2003, Sharapova sukses meraih gelar juara Grand Slam untuk kali pertama pada tahun 2004 tepatnya di ajang Wimbledon. Gelar juara Wimbledon tersebut diraih oleh Sharapova usai mengalahkan petenis unggulan kala itu Serena Williams. Selang beberapa bulan Sharapova masuk final di ajang Grand Slam Amerika Serikat Terbuka, namun sayang Sharapova kalah di partai puncak. Dan tahun 2004 ditutup Sharapova dengan menjuarai turnamen WTA Finals Tour usai menekuk Serena Williams melalui petarungan sengit tiga set.
          Pada tahun 2005 sebenarnya Sharapova gagal meraih satu pun gelar Grand Slam. Namun berkat performanya yang konsisten pada tahun 2005, Sharapova sempat berada di rangking teratas petenis putri dunia.
         Dan semenjak tahun 2005 performa Sharapova bisa dibilang cukup konsisten dan stabil. Meski tidak lagi berada di rangking satu dunia, Sharapova sukses menjuarai beberapa gelar juara baik di kejuaraan level Major maupun di kejuaraan level Grand Slam serta tidak pernah keluar dari posisi 10 besar dunia.
       Namun performa stabil Sharapova terpaksa terhenti pada tahun 2016. Hal tersebut terjadi akibat Sharapova dijatuhi hukuman skorsing dari federasi tenis dunia karena dirinya kedapatan menggunakan doping saat berlaga di ajang Grand Slam Australia Terbuka tahun 2016. Sharapova pun mendapat skorsing berupa larangan bertanding selama 24 bulan, namun beruntung bagi Sharapova hukumannya dikurangi menjadi 15 bulan usai bandingnya diterima oleh CAS atau komite arbitrase olahraga internasoinal.
       Kemudian pasca skorsingnya berakhir, Sharapova kembali turun bertanding setelah mendapat tiket Wild Card di turnamen Porsche Grand Prix 2018 di Stuggard, Jerman. Namun sayang pasca come back ke dunia tenis, performa Sharapova mengalami kemerosotan yang sangat signifikan. Dan sampai sekarang pun performa Sharapova belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Bahkan di sejumlah turnamen yang diikutinya Sharapova selalu tersingkir di babak babak awal. Performa kurang bagus Sharapova menyebabkan dirinya tercecer di rangking 97 dunia hingga saat ini. Semoga saja dalam waktu waktu kedepan Sharapova mampu mengembalikan performa bagusnya seperti dulu.
       Di luar dunia tenis, nama Sharapova sangatlah populer berkat kecantikan dan kehebatannya dalam bermain tenis tentunya. Dengan modal tersebut dirinya pun banyak menjalin kerjasama sponsorship dengan sejumlah produk produk papan atas baik produk olahraga maupun non olahraga. Sejumlah produk yang menjadi sponsor bagi Sharapova antara lain produk minuman berenergi Gatorade, produk apparel Nike, produk jus orange Tropicana, serta produk aksesoris beken asal Swiss Tag Heuer.
          Dan demikianlah pembahasan kita kali ini mengenai petenis peraih medali perak Olimpiade London 2012 bernama Maria Sharapova. Semoga ulasan singkat mengenai perjalanan karir petenis cantik asal Rusia ini bermanfaat bagi kita semua.